Minggu, 28 Juni 2009

Pendakian Gunung Merapi

Jalur pendakian via SELO ( BOYOLALI)

1 dari semarang bisa di tempuh melalui jalur menuju jogja, yaitu semarang-magelang-muntilan langsung belok kiri ke arah selo ( boyolali)

2 dari solo bisa ditempuh melalui solo-boyolali-selo

3 dari jogja bisa ditempuh dari jogja-(ke arah magelang) sampe muntilan belok kanan ke arah selo (boyolali)







Pendakian ini adalah pendakian pertamakali ke merapi, secara sampe sekarang dah naek 2 kali. tetapi yang paling mengesankan pada pendakian pertama.


1. mendadak ke merapi
rencana pendakian ini kami buat ketika awal liburan semester, tepatnya pd tanggal 8 februari 2008. waktu itu anak2 kost sekitar kampus uns sedang migrasi besar besaran menuju kampung halamanya. di kostku sendiri tinggal aku sendirian, sempat berpikir untuk pulang ketika ga ada temen, tetapi saya masih menemukan satu temen, coz dy anak kalimantan. waktu itu ketika aku sama simbah (ajiz) la makan tahu bakso yang dititipin da pesantren mahasiswa arr-royan. karena gedungnya berlantai 2, maka ketika melihat ke arah sisi timur kami menemukan pemandangan gunung lawu yang setengahnya sedang tertup kabut. dari situlah kami berpikir untuk mendaki gunung.

2. Kenapa harus merapi?

Pada liburan sebelumnya kami telah mendaki bromo, (kenapa ini juga ermasuk pendakian?), karena kami ke brom
o via tosari dengan berjalan kaki, pdhal yg lainnya naek jeep hrdtop. setelah dari bromo selang satu hari kami mendaki gunung lawu. ketika kami mendapat uneg2 mw daki gunung, langsung terpikir antara merapi dan merbabu, tetapi karena pertimbangan musim, kami pilih merapi, disamping karena musim hujan merapi relatif randah drpada gunung2 yang lainnya.



3. Persiapan mendadak

setelah kami berdua telah menentukan gunung yang kita daki, giliran malemnya kita sebar sms yang berisi isu tentang pendakian tersebut. malem itu juga saya (sushii) dengan simbah gencar mengirim sms ke adik2 tingkat kami. walhasil dari 20an arang yang dsms 2 di antaranya mau bergabung. maka dari itu pendakian ini beranggotakan 4 orang yaitu saya sushii, simbah, rahmat, agung hidayat. malam pun semakin larut akupun tidur sambil membayangkan dan ketidaksabaran untuk mendaki secepatnya. pagi pun mulai menghampiri, pagi itu saya dan simbah mencari peralatan yang sama sekalipun belum punya, pdhal itu peralatan penting, diantaranya camera digital, tas ransel, matras dll. skitar jam 9 pda tgl 8 januari itu saya dan simbah putar2 kota solo, target utama adalah mencari tas dan matras, setelah keringat cukup untuk mandi akhirnya kami dpt juga. setelah itu trget terberat yaitu beli camera digital, tau sendiri kami bukan golongan dari beruang, ha,,,,,,! setelah perdiskusian yang alot akirnya simbah mau beli camdig, meskipun belum ada uang cukup kami sepakat untuk patungan + uang untuk bayar kost pun kami alokasikan untuk beli camdig, itu kami rela mengeluarkan uang yang ga sedikit cos kami beranggapan, perjalanan tanpa dokumentasi adalah boong.



4. ujan yang tak kunjung reda

di atas semangat kami yang membara,,,,satu impian yaitu ayo cepetan berangkat ke merapi.....! jam telah menunjukkan angka 15,20. setelah kami sholat asyar kami memandangi luar asrama,,,, ternyata langit sedang di tumpangi mendung yang ssangat tebal, maka kami berpikir, mendung tak berarti ujun. akirnya kami membaya tas kami yang gede itu ke parkiran motor asrama,,,e,,,,,lha dalah mbah saelah makan jadah.....
seketika nyampe di parkiran ujan langsung turun.....

jiwaku lgsung meledak ledak ketika ujan turun, tp q mencoba menenangkan pikiran, coz ujan merupakan rahmat dari allah swt. yang perlu di syukuri keberadaanya.

kami pun mondar mandir di parkiransambil berpikir, akhirnya dengan semangat kami diputuskan berangkat juga meskipun ujan.


5. gratisan sate di markas SAR uns

ketika motor kami menyusuri jalanan di solo, tiba tiba agung mendadak teringat perlengkapannya yang tertinggal di markas sar, otomatis kami mampir dulu ke markas sar, emang rejeki ga kemana, wktu mampir disana bertepatan ada acara makan2, yaudah kita ngikut nimbrung disana, makan sate ma gulai kambing. setelah kenyang kita melanjutkan perjalanan ke selo

6. bascam new selo

bascamp merapi di selo ini tergolong bese camp yang paling kurang nyaman di antara basecamp gunung2 yang ada di jawa tengah, basecam berada di rumah penduduk, selain itu fasilitas untuk mck kurang nyaman. berbeda dngan bse cmp yang lainnya yang telah di kelola dengan baik.
di sini kita bisa memesan nasi gireng maupun kopi panas pada ibu yag punya rumah, selain itu juga dapat digunakan untuk menitipkan sepeda motor, meskipun daya tampungnya sedikit sekitar 8 motor.


7. mendaki merapi

sebelum kami start, saya sempat berkenalan ma pendaki laen, setelah ngobrol2 ternyata dy temen kakaku, sempat juga kami di tawari naek barengan, tp q milih untuk naek belakangan agar ga bareng ma temen2 kakaku.

setelah jam 9 malem lebih, kami berangkat . seperti adat sebelumnya, kita ambil foto dulu di depan bescamp sebelum naek. dari perkebunan warga yang masih landai,,kita terus menyusuri jalan setapak, sesekali memandangi arah belakang, seberapa tinggi kami . karena di bascamp terdapat tower selular maka kami dapat mengira2 seberapa tinggi kami.


dengan semangat kami dapat melalui perkebunan penduduk tanpa kepayahan. memasuki hutan perhutani, kame serombongan mulai disapa dinginnya angin yang berhembus. sesekali waktu kami berempat berhenti untuk mengatur napas yang terengah engah mirip anjing yang kepanasan sambil membasahi tenggorokan yang kering.

ketika kami berhenti, sempat kami di everlap sama bapak2 yang berbadan kekar dan memakai baju doreng, nampaknya rombongan tersebut adalah rombongan orang2 AD yang bermarkas di klaten.


jam menunjukkan angka 10.30. kami melanjutkan pendakian, semakin kami ke atas angin semakin berhembus kencang, tepat pada pukul 11.00 kami berhenti sambil membayangkan suara angin yang mirip pada sandiwara radio "nini pelet"
terjangan angin pada punggungan gunung yang tertumbuhi pohon lamtoro gunung, menambah riuhan angin semakin kencang. dingin udara gunung yang menyapa kami semakin menjadi jadi. kabut yang tebal berubah menjadi bintik-bintik air dan jatuh membasahi pakaian kami.

setelah kami rasa angin semakin besar ( sampai menggoyahkan kami ketika berdiri) dan suara angin semakin menakutkan, kami berhenti. dengan berhentinya langkah kami, maka semakin dingin hawa gunung menusuk hingga tulang. kami berempat berhenti dikarenakan angin badai....
malam semakin larut...aku memilih mengeluarkan matras untuk melindungi badan dari tiupan angin, serta menyumpat kupingku agar mengurangi suara badai yang menakutkan. kami berlindung pada bekas alur air yang membentuk sungi kecil ( tetapi kering tidak ada air). saat itu hatiku semakin takut akan terjangan badai itu, sesekali ku melihat pepohonan yang terpontang panting dahsyat karena terjangan badai, kulihat di bawah kakiku tiga temanku sedang berlindung dengan jad hujan masing-masing. ketika hatiku takut karena angin yg sangat besar, akupun mengajak teman teman untuk mengurungkan melanjutkan perjalanan serta mengajak secepatnya untuk turun. tetapi hasil dari perbincangan temen2ku lebih baik kita tidak bergerak. karena kondisi badai yang mampu mementalkan tubuh kita, dan menghempaskan ke dasar jurang yang berada di sisi kami, itupun mudah terjadi kami karena kami berempat hanya berbekal lampu senter gadungan, yaitu lampu senter dari korek gas sharga seribuan . akhirnya kami bertahan,,,meskipun dari arah atas kami banyaak pendaki yang memilih cari aman untuk turun, tak terkecuali puluhan bule dan beberapa gaednya yang juga memilih untuk turun.


ketika banyak pergerakan pendaki yang lebih dulu start dari kami yang sedang turun, mereka melewati satu-satunya jalan setapak yang ada, itupun kami buat untuk berbaring. akhirnya merekapun melangkahi badan kami, karena akupun lebih fokus mengalihkan perhatian ku untuk menahan rasa kawatir daripada di injak2 bule. sempat ku tidak menggubris orang yang lewat dan melangkahiku sampe sampe satu diantara bule itu menyenteri wajahku ( mungkin dikira tewas kali ya) ha,,,



selang beberapa jam arus lalulalang usai, tinggal kami berempat yang bertahan, udara semakin dingin, kedua kakiku sampai batas paha sudah terasa mati, (kerena beku). selain itu nafas terengah-engah karena oksigen menipis. nafasku mirip orang habis lari 50 km tanpa berhenti. terengah2 dan tersiksa, sempat ku berpikir,,,," mungkin dua hari lagi orang tuaku mendengar anaknya mati konyol karena mendaki gunung" cos selama ini aku tidak pernah minta ijin kl mo daki, ( klo ijin pasti g boleh,hhe,,,he,,,)


pikiranku semakin memburuk, ketika teringat, dulu seorang murid bokapku ada yang meninggal di atas gunung karena hempasan badai yang serupa.pikiranku kalut dan berteriak dalam hati,,,q ga mw mati konyol di atas gunung,,,,,,!!!!!!!!!

waktu mulai berlalu, dan agaknya siksaanku mulai turun ketika jam mulai melampaui angka 2.30 dini hari...! kame berempat bangun dari persembunyian, badai mulai mengurang tp hanya sedikiiiit....! kami dapat semangat karena semakin ke depan, waktu akan membawa pada pagi hari dan menemukan terangnya sang surya.

akhirnya dengan sempoyongan kami lawan badai tersebut, hingga waktu subuh. kami berhenti dan sembahyang berjamaah di dekat lembah pasar bubrah. heri mulai remang remang, kemi mulai menaiki puncak pasir,,,semakin wktu menuju siang, matahari tak menampakkan batang hidungnya, karena ktebalnya hadangan badai kabut. dengan susah payah kami terus naik, kemudian kami bertemu teman2 kakaku yang dari bascamp sempat kenalan. akhirnya kami sepakat bergabung, dengan begitu rombongan menjadi sepuluh orang. mengingat badai yang sangat besar hari itu yang masih melanjutkan perjalanan hanya 10 orang tersebut.



8. Sarapan pagi dengan terjangan badai yang kencang


setelah bergabung kami berhenti untuk melakukan sarapan, kami berlindung di balik batu besar, untuk melindungi terjangan angin maut itu. beberapa jam setelah melalui gunung pasir, akhirnya tenaga kami terkuras juga, otomatis kondisi ini membuat kita tercecer satu dengan yang laennya.

waktu itu terpencar jadi 3 bagian, yaitu rombongan teman2 kakakku, kedua aku sama rahmat dan agung, yang ketiga simbah sendirian, mungkin karena tenaga simbah yang paling terkuras karena faktor yang lebih tua,,,( 1 thun aja si sbtulnya). sadar karena tidak nampak sosok teman kami, akhirnya kami menunggu beberapa waktu dan sambil memanggil namanya dengan suara sekeras kerasnya, tp tak parnah ada sahutan sama sekali. suara keras yang keluar dari mulut kami ditelan begitu saja sama gemuruh badai,,,


kami berunding untuk turun mencari simbah sambil berteriak-tariak. setelah beberapa lama kami berhenti untuk menyiapkan tenaga untuk mengayuh langkah kami. kami bertiga semakin kawatir karena tahk segera menemukan simbah. karena kehilangan simbah kami sempat mengurungkan lagi niat untuk sampe puncak, padahal waktu tempuh tinggal 1 jam.

setelah kami menuruni bukit pasir skitar 20 menit akhirnya simbah ditemukan dengan keadaan sehat, meskipun terlihat agak colapse. kami ber4 bersatu lagi, semangat kembali muncul dan akhirnya kita naek lagi.


9. Diantara dua batu besar dan terjal


ber4 kami susuri batuan pasir hasil erupsi g merapi, kami ber4 berjalan ke atas beriringan, suatu saat aku berpencar untuk mencari celah ( terhadang batu besar dan kabut tebal). apabila salah satu menemukan jalan yang paling mudah kami akan saling memberi tahu dan di jadikan jalan untuk lewat. waktu itu mereka bertiga lewat di sebelah kananku dan aku sendirian disamping kiri mereka. kami mendapati persimpangan dan akupun sendiri lagsung kearah celah batu besar, aku memaksa untuk melaluinya aku memanjat batu tersebut, tetapi ternyate tidak bisa diteruskan karena terjal, akhirnya aku memutuskan untuk mundur..tetapi kakiku tidak sampai untuk memijakkan pada batu pijakkan sebelummnya, kakiku sedikit terpeleset dan tas punggungku menyentuh bebatuan di sampingku, kondisi ini membuat keseimbanganku hilang, dan aku hampir jatuh ke dasar jurang, untung saja kedua tanganku masih bisa meraih batuan yang dapat dijadikan pegangan, akhirnya aku bisa turun lagi maskipun jantungku berdetak 1000 kali per menit alias ( bhs jawanya ndredeg). dan segera aku mengucap syukur karena masih selamat dari incaran runcingnya batu di dasar jurang.



10. Sampai puncak


Dari susahnya perjalanan kami akhirnya sampai puncak juga, segera seperti biasanya ketika sampai puncak, yaitu melakukan perayaan ala ku, yaitu copok baju untuk di potret. setelah beberapa potretan akhirnya ku g bisa menahan dingin, selain itu hasil foto tidak terlalu jelas, karena jarak pandang hanya 7 meter-an. setelah 30 menit. kami memutuskan tidak berlama lama di puncak, karena badai terus menerjang. ketiga temanku pun rela hanya di foto 4 kali. ini mengingat situasi yang kurang bagus.














11. turun gunung














tidak banyak aksi di puncak merapi. akhirny kami turun. selama perjalanan turun kami hampir salah arah. ini berhubungan dengan track yang tidak meninggalkan jejak karena medan berupa batu dan pasir. pdhl waktu turun jam menunjukkan angka 10 pagi, tetapi sinar matahari tidak mampu menembus kabut tebal. ketika itu kami menemui jalan buntu, di depan kami hanya tersaji jurang tanpa pilihan. paling susah adalah melewati batu dan pasir yg tanpa jejek. kami semua salah arah.tetapi kami tidak menyadari, karena pandangan terhalang kabut. beberapa waktu setelah kami bingung akhirnya terdapat kesempatan satu slide (mirip tayangan power point kurang lebih selama 30 detik) yaitu berupa celah kabut yang berjalan dan kondisi itu membuat kami serombongan takjub, dan dapat melihat jalan menuju pasar bubrah (dasar dari bukit pasir). akhirnya kami sampai pasar bubrah dengan sehat wal afiat.

di pasar bubrah kami berhenti istirahat sambil main2, simbah berfoto dngan pose mirip penembak jitu( kbetulan di kost barusan nginstal game call of duty) selain itu dangan saya berpose mirip orang yang sedang menolong temannya yang mw jatuh dari jurang, mirip di film...he,,,he,,,
setelah kami ber 4 puas mengambil foto dengan background kabut akhirnya kami turun menuju bascamp dengan selamat,,,,,,,

11 komentar:

  1. merapi mang asyik... jalur e g muter2, pemandangane jg yahooot..

    BalasHapus
  2. merapi pancen asyiiik, g njlimet kyok ngurus perizinan...

    BalasHapus
  3. @ azis, ho o kang aziz, meskipun berat tp ra ruet kyo nang birokrasi,,,,

    BalasHapus
  4. wah kok sajak dramatis ngono perjalanane,...lha ya kowe kuwi lho cil simbah-simbah kok diajak munggah gunung, mbok ben ning omah wae momong putu hwehwe..
    ditunggu critane ning gunung2 liyane

    BalasHapus
  5. Yang di Penanjakan sama di sindoro gak di critain Sus?
    tamplatenya yang agak keren dikit donk, kasih banner kek!

    BalasHapus
  6. lha sing neng lawu, sindoro, sumbing karo bromo gak dicritakno Sus?

    BalasHapus
  7. lha sing neng lawu, sindoro, sumbing lan bromo gak dicritakno Sus?

    BalasHapus
  8. sushii motto=
    yo mas, kpn2 tak tulis e, biasanya suka nulis klo lg kesepian

    BalasHapus
  9. halaman mu kurang praktis,,, kedawan.

    BalasHapus